Aku Juga Bangga



“Hey, gimana hasil kontes Miss. Ballerina-nya? Sukses ga?”
“Alhamdulillah sukses. Belum jadi juara, sih. Tapi lumayan bisa jadi Ballerina Favorite.”
Kata-kata Qinar tadi pagi masih terus terbayang di pikiran Wenda dan gara-gara itulah, Wenda jadi tidak bersemangat mengikuti pelajaran di kelas. Wenda membayangkan Qinar yang cantik dan anggun dalam balutan kostum Ballerina. Wenda ingin sekali menjadi seperti Qinar, pandai menari ballet seperti pada film Barbie kesukaannya. Pokoknya hari ini aku harus bilang ke Bunda kalau aku ingin menari dan aku ingin menjadi seorang ballerina, batin Wenda.
~~
“Assalamu’alaikum, Bunda. Wenda pulaang!!!” teriak Wenda di pintu depan.
“Wa’alaikumsalam sayaang. Ada berita apa, nih, dari sekolah?”
“Tadi ulangan Bahasa Indonesianya sudah dibagi dan Wenda dapat nilai 100, lho, Bun.”
“Oh, yaa?? Selamat ya sayaang. Anak Bunda pinter, deh. Ya udah sekarang masuk kamar dang ganti baju dulu. Bunda tunggu di meja makan, ya,” ujar Bunda seraya mencium kening Wenda.
“Oke, Bunda.”
Sesampainya di kamar Wenda tidak langsung mengganti seragamnya, tetapi dia masih memikirkan kata-kata Qinar di sekolah. Wenda ingin mengatakannya pada Bunda tapi ia takut Bunda tidak setuju karena Wenda tahu, biaya untuk les ballet itu tidaklah murah sedangkan keadaan ekonomi keluarga Wenda saat ini sedang pas-pasan. Ah. Seandainya saja Ayah masih ada, pasti sekarang ia sudah ikut les ballet bahkan mungkin saat ini ia sedang pentas.
“Wenda. Kok belum ganti baju? Bunda sudah nunggu di meja makan dari tadi, lho. Kamu ngelamunin apa sayang?”
“Mmm.. Bukan apa-apa kok Bunda. Wenda cuman ingin jadi ballerina seperti Qinar yang bisa pentas di mana-mana.”
“Oooh, ya sudah, kalau begitu, tapi kamu ga kasihan lihat Bunda yang dari tadi sudah kelaparan?” canda Bunda.
“Hehehe. Iya deh Bunda tunggu di meja makan aja nanti Wenda nyusul.”
“Jangan ngelamun lagi ya sayaang.”
“Siap, Boss!!”
~~
“Wenda besok pagi ikut Bunda jalan-jalan, yuk?” Tanya Bunda dari dapur.
 “Kemana Bunda?”
“Ada, deh. Lihat aja besok.”
“Oke, Bunda.”
Pagi-pagi sekali Wenda dan Bunda sudah pergi ke pusat kota. Tidak terduga-duga Bunda memasuki salah satu ruko kecil di sebelah timur alun-alun. Wenda heran. Bukannya Bunda mengajakku jalan-jalan? Tapi kenapa kesini? Ini kan bukan tempat untuk refreshing?, pikir Wenda. Di dalam ruko tersebut banyak hiasan-hiasan dinding bernuansa etnis Bali. Menyeramkan, batin Wenda.
“Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita cantik tiba-tiba.
“Oh, ya. Ini saya mau mendaftarkan anak saya untuk les di sini, bisa?”
“Oh, bisa. Mari isi formulirnya dulu di dalam.”
“Lho, Bun, Wenda kan inginnya ballet bukan tari Bali.”
“Udah coba aja dulu, Wen. Siapa tau tertarik. Lagian kamu kan tau kalau uang Bunda ga memungkinkan buat kamu ikut les ballet. Laba di toko tidak terlalu banyak dan kebutuhan kita masih banyak. Lagian ini kan sama-sama nari, sayaang. Nanti kamu bakal tau manfaatnya, deh,” ujar Bunda bijak.
“Iya deh Bunda,” jawab Wenda pasrah.
~~
Awalnya Wenda masih belum bisa menikmati tari Balinya itu. Dia menari hanya karena merasa kasihan dengan Bunda yang sudah membiayainya. Suatu hari, Wenda iseng masuk ke ruang gamelan. Wenda pun terkejut karena di sana terdapat banyak piagam dan trophy. Piagam dan trophy itu pun dilihatnya satu persatu. Ada piagam untuk Kak Tini dengan Modifikasi Tari Tradisional Terfavorit Tingkat Dunia. Ada juga penabuh gamelan terbaik nasional dan dunia dan masih banyak lagi. Wenda tak menyangka tarian yang selama ini selalu diremehkannya ternyata sudah mendapat penghargaan tingkat dunia. Wenda merasa bersalah, terutama terhadap Kak Tini karena sudah menyepelekannya.
“Ga cuman modern dance aja yang bisa bersaing di dunia luar, tapi mereka justru lebih menghargai tarian tradisional. Mereka menganggap bahwa budaya kita itu unik,” ucap Kak Tini mengejutkan Wenda.
“Maaf ya, Kak atas sikap Wenda selama ini. Wenda terlalu meremehkan tarian tradisional. Wenda ga tahu kalau ini juga bisa dibanggakan.”
Tidak apa-apa, Wenda. Yang penting mulai sekarang kamu harus rajin latihan biar bisa dapat penghargaan seperti yang lainnya.”
“Iya, Kak. Wenda akan berusaha.”
~~
And.. Please welcome to our new Queen of Dancing Wenda Eriaatmadja from Indonesia. You’re the winner, girl. Congratulation.”
Wenda tak percaya. Sekarang ia berdiri di sini, di atas panggung megah di Prancis dan meraih gelar juara di ajang tari bergengsi di dunia. Mengalahkan ribuan peserta dari seluruh dunia. Ini semua berkat dukungan Bunda dan Kak Tini selama ini. Terimakasih ya, Bun, Kak, batinnya.
Ya. Mungkin Qinar bisa terlihat anggun dengan busana ballet-nya tapi Wenda lebih berbangga dengan tariannya. Ia merasa puas karena bisa membuat dunia kagum dengan Indonesia. Justru dengan ini, Wenda bisa membuat dunia menjadi lebih mengenal dan menikmati budaya Indonesia yang selama ini diangap rendah oleh dunia, bahkan oleh orang Indonesia itu sendiri.

2 thoughts on “Aku Juga Bangga

Powered by Blogger.