Aku yang Berputus Asa



Deg. Jantungku rasanya nyaris berhenti berdetak tatkala aku melihat namanya tergeletak di layar monitorku. Nama itu. Sudah berapa lama aku tak mendengarnya? Nama yang dulu sering kusebut-sebut, setidaknya saat aku dan dia sedang latihan bersama. Rasa-rasanya aku ingin sekali mengetahui kabarnya. Entah sudah berapa lama kami tak sua. Rindu? Kurasa tidak. Lantas apa? Sepertinya pertanyaan itu akan terus menggelayuti pikiranku bersama pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang dia.
Rasanya, aku ingin membuka profil itu. Walaupun aku tahu itu bukan dirinya, tapi entah mengapa hatiku mengerang memintaku untuk melakukannya. Dengan sabar kutunggu muatan koneksi internetku. Benar juga dugaanku. Itu bukan dia. Ah, ada nama yang sama rupanya. Eh. Sama? Rupanya aku tengah ngelantur. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa nama si empunya profil dan dia sama jika yang kutahu hanyalah nama panggilannya. Nama yang hanya terdiri dari 1 kata dan  tak lebih. Ya Tuhan, apa yang sedang ada di dalam pikiranku?
Sebaiknya aku keluar sebentar dari akun pribadiku. Sedikit menghirup udara segar tak salah, kan? Yah, setidaknya di dalam otakku sudah tidak berkecamuk bayangan tentang dia. Laptop sudah kumatikan dan aku memilih berjalan-jalan sebentar di pematang sawah di sebelah rumahku. Kutarik napas dalam-dalam dan kuhembuskan secara perlahan. Nikmatnya alam pedesaan takkan pernah tertandingi oleh metropolitan manapun. Kuberjalan sembari mengabadikan Karya Agung Tuhan dalam kamera DSLR-ku. Jangan anggap aku pandai fotografi. Aku hanya senang melakukannya. Aku tak pernah mengerti teori-teori mengenainya. Yang penting aku suka, dan aku puas dengan hasil bidikanku. Itulah satu-satunya teori yang aku pegang selama ini.
Langkahku terhenti di sebuah gubuk yang hampir reyot. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini. Kurebahkan diriku di atas rakitan bambu-bambu ringkih itu secara perlahan. Bunyi berdecit tak bisa dihindari. Biarlah. Memang sudah sepuh. Kuraih binder yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Tinta hitam yang terselip di dalamnya mulai menorehkan kata-kata di setiap baris kertas tersebut. Tiba-tiba tanganku terhenti. Aku membaca tulisan itu dengan teliti. Ya Tuhan. Sekarang apalagi yang telah kuperbuat? Aku termangu sesaat. Secara tidak sadar aku telah menulisnya. Menulis apa yang seharusnya tak boleh aku tulis. Dia. Kenapa harus dia yang ada dalam tulisanku ini, Tuhan. Mengapa hari ini aku seakan-akan diteror oleh bayang-bayang semunya? Bingung, marah, kesal, resah. Semua berkecamuk menjadi satu di pikiranku. Sepertinya lebih baik aku pulang sekarang.
Perjalanan kembali ke rumah yang hanya berjarak beberapa meter ternyata belum bisa menghapus bayangnya dari benakku. Justru perjalanan singkat itu semakin membangkitkanku akan kenangan indah di waktu lalu. Di saat kita berbagi bersama, tertawa, bercanda. Hanya itu yang bisa kuingat tentangmu karena sebenarnya kita sendiri pun jarang berbicara secara intern berdua. Bukan karena aku tak bernyali, tapi karena kamu selalu dikelilingi wanita-wanita yang lebih bernyali dariku dan sepertina kamu merasa nyaman berada di sana.
Ah. Andai saja dulu nyaliku sebesar wanita-wania itu. Mungkin saja saat ini aku takkan kehilangan informasi tentangmu. Atau, mungkin seharusnya wanita-wanita itu yang pergi dari sisimu agar aku bisa menyimpan lebih banyak kenangan saat bersamamu.
Sudahlah. Apa untungnya menyesali perbuatan di masa lalu. Toh, itu semua sudah benar-benar terjadi dan takkan mungkin terulang lagi. Tapi di sini aku masih berharap agar aku bisa menebus kesalahan masa laluku ketika aku bersamamu. Semoga Sang Pendengar Doa menjawab anganku.

Untukmu, dari aku yang berputus asa
Magelang, 28 Juni 2013

2 thoughts on “Aku yang Berputus Asa

  1. jangan putus asa ka..semangat ya :)

    keep posting :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya om
      stay komen yah
      masalahnya aku masih belajar jadi masih acakadut :)

      Delete

Powered by Blogger.