Hujan



Rintik-rintik air itu tak kunjung pergi. Sudah sedari pagi buta mega mendung pembawa air hujan belum beranjak. Tidak besar. Mega itu hanya membawa air yang sedikit, tapi tanpa henti. Menciutkan nyaliku yang ingin bepergian dengan motor kesayanganku.
Sudah hampir seharian aku tidak keluar rumah. Bagaimana bisa? Sebenarnya aku bisa saja pergi dengan jas hujanku. Tetapi, yah, itulah aku. Aku tidak suka memakai jas hujanku di motor walaupun hujan sekalipun. Ribet. Dan. Tidak praktis.
Gemas sekali rasanya melihat rintikan hujan turun dari mega, mengenai dedaunan di pohon, dan akhirnya turun ke permukaan bumi. Aku masih tak habis pikir mengapa sampai saat ini hawa masih dingin. Musim hujan seharusnya selesai dua bulan yang lalu. Tapi sang sinar raksasa masih enggan menampakkan dirinya. Mungkin masih nyaman berada di balik selimutnya. Entahlah. Yang jelas, perubahan jadwal cuaca yang menurutku tak lazim ini cukup untuk merusak hari-hariku. Schedule yang sudah kupersiapkan bersama teman-teman berantakan. Kami pun di sini semua sama. Mengharapkan hujan segera berakhir dan sinar raksasa itu kembali datang menghangatkan tubuh ini.
Beginilah jadinya jika aku mempunyai segudang rencana indah tapi aku tak punya apa yang dikatakan orang sebagai plan B. Nasib menjadi orang rumahan pun tak bisa dihindarkan lagi. There’s no choice. Padahal hidup itu selalu ada pilihan. Perfect. And I made the wrong decisions.
Hymne A La Joie milik Richard Clayderman mengalun indah dari speaker IPod shuffle-ku. Lagu yang tepat di cuaca yang tepat. Ingin rasanya aku berbaring sembari mendengarkan instrument ini secara kidmat. Ya. Kubawa IPod shuffle-ku ke ruang tamu, kuletakkan di atas meja, dan…. Huff. Kurebahkan badanku di sofa panjang di sudut timur ruangan. Surga dunia bagiku. Berbaring memeluk bantal di sofa empuk yang nyaman sungguh membuatku terlena. Dan tak perlu butuh waktu lama aku pun pergi menuju alam khayalku. Yang tiada seorang pun yang tahu selain aku.
Aku tahu aku sekarang tidak berada di dunia nyata. Tapi mengapa sama? Segala sesuatunya sama persis. Hujan, sofa empuk, dan alunan piano Richard Clayderman. Apakah aku memang belum tertidur? Ah, entahlah. Lupakan saja hal itu. Kucoba bangkit dari kenyamanan sofaku. Aku beranjak pergi ke teras rumah dan duduk-duduk di sana. Cipratan air hujan mengenai tubuhku yang menggigil kedinginan. Tangan ku pun menengadah ke atas. Meminta sedikit air hujan dan memainkannya sebentar sebelum sampai di tanah. Pikiranku melayang ke kejadian beberapa waktu silam. Kenangan yang masih segar di dalam pikiranku. Di saat kami bersenang-senang dengan genangan air hujan di tanah. Membuat istana kecil di depan rumahku ketika hujan sirna menyisakan kegelapan. Selalu begitu. Rasanya aku ingin terus bersama mega mendung itu. Mega mendung yang justru memberikan kehangatan kepada tubuh kedua bocah kecil yang sedang bermain. Berharap tanah akan selalu basah.
Aku juga takkan pernah lupa. Ketika aku bermain di rumahmu karena hujan cukup deras. Entah apa yang kita obrolkan, entah apa yang kita mainkan. Mungkin hanya bercerita tentang teman-teman di sekolah. Berebut jungkat-jungkit. Atau meminum susu hangat yang telah dibuatkan oleh ibumu. Kamu juga pasti masih ingat kalau kala itu kamu selalu meminumnya dengan menggunakan dot. Padahal umurmu lebih tua beberapa tahun dariku. Mungkin saat itu kamu sudah duduk di sekolah dasar. Tapi kamu tak malu melakukannya di depanku. Justru aku yang selalu mengejekmu. Mengatakan bahwa kamu seperti bayi. Jelas saja. Aku yang lebih muda darimu sudah biasa minum susu dengan gelas, bahkan, seperti yang akhirnya aku tahu bahwa aku memang tidak pernah dibelikan dot oleh ibuku.
Sampai suatu saat, kau tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Rumahmu kosong. Kata ibu, kamu pindah ke komplek depan. Bukan jarak yang jauh jika kala itu aku sudah beranjak remaja. Tapi untuk seorang anak TK seperti aku? Melewati puluhan rumah dan keluar dari gerbang komplek merupakan hal yang mustahil. Bukan karena aku tak mau. Tapi karena ibuku takkan pernah mengizinkanku untuk melakukannya. Sejak saat itulah aku merasa hujan tak lagi indah. Aku selalu di dalam rumah ketika hujan. Aku tak mau keluar untuk menerima kenyataan bahwa kau tak di sana. Aku terlalu kecil untuk bermain seorang diri di depan rumah.
Sekarang, sudah hampir 20 tahun lamanya kita tak bersua. Aku takkan pernah melupakan bayang wajahmu. Wajah yang selalu membuatku ceria di kala hujan. Wajah yang selalu kunanti ketika aku pulang dari aktivitas sekolahku yang padat. Wajah yang selalu kunanti ketika aku berada di balkon kamar kala malam menjemput.
Aku hampir saja melupakan dirimu jika kita tidak bertemu di café malam itu. Ketika aku suntuk dengan riset studiku di kampus. Ketika pikiranku buntu untuk mengejakan skripsi yang hanya beberapa bulan lagi. Kamu datang dengan segala perubahan. Kamu datang menemui manajer café dan memohon agar dipersilahkan menunjukkan kebolehanmu di sana. Dan sepertinya manajer itu suka padamu. Dia mempersilahkanmu untuk melakukan apa yang kamu mau. Kamu memainkan tuts piano yang terletak di panggung café dengan lincah. Memainkan beberapa lagu indah yang takkan mungkin kulupakan sepanjang hidupku. Dari dulu selera kita selalu sama. Mengagumi masterpiece dari komponis sekelas Beethoven, Mozart, Richard, dan Kenny G.
Aku menunggumu selesai bermain. Aku meminta kepada manajer café agar menyuruhmu menemuiku setelah mini konsermu. Aku tak tahu apa yang ingin kubicarakan denganmu. Melepas rindu, atau.. Entah. Sekarang aku merasa bodoh telah melakukan hal konyol. Aku tak tahu apa yang ingin aku katakan kepadamu. Aku bahkan tak tahu apakah kamu masih ingat padaku. Tapi aku tak mungkin berjalan kembali ke ruangan manajer. Pantang bagiku untuk menjilat ludah sendiri.
Akhirnya kaupun datang dengan peluh bercucuran di dahimu. Nafasmu. Ah… Bau yang aku benci. Rupanya kau seorang perokok sekarang dan rasanya aku mencium bau alkohol dari sekujur tubuhmu. Kau menghempaskan badanmu yang ceking di sofa café. Dari gelagatmu, aku yakin bahwa kau masih ingat padaku. Kamu memulai percakapan dengan pertanyaan basa-basi. Dan entah mengapa, kau menceritakan pengalaman hidupmu secara tiba-tiba. Kau menceritakan bahwa dirimu bukan seperti yang aku kenal di masa kecil. Kau jujur padaku tentang alkohol itu. Kau pun jujur padaku tentang kondisi keluargamu saat ini. Keluarga yang porak-poranda. Tanpa harmonisasi yang indah dan menenangkan jiwa.
Ada sekelebat rasa perih yang menggerayangi tubuhku. Aku merasa tak kuasa mendengarkan kisahmu. Yang aku tahu hanya, di sini, aku berjanji akan selalu menjagamu dari segala godaan neraka dunia. Dan aku hanya bisa berharap semoga kau berubah. Berubah menjadi dirimu yang dulu. Yang selalu membuatku ceria, tertawa, dan marah.

Senin, 10 Juni 2013

Leave a Reply

Powered by Blogger.