Untitled



Alarmku berbunyi nyaring. Mengatakan padaku bahwa aku sudah seharusnya bangun dari tidur panjangku semalam. Ah. Belum cukup rasanya aku bermimpi. Mimpi yang indah hingga membuatku enggan berada jauh dari bantal kesayanganku. Baru beberapa detik terpejam, alarm wekerku pun ikut menunjukkan aksinya. Huh. Iya deh aku bangun.
Sambil terseok-seok, aku tetap memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi. Hanya sekedar untuk ‘mengeluarkan setoran’ dan wudhu. Kalau tidak begini, aku tidak akan pernah berubah. Kulangkahkan kakiku kembali menuju kamar. Kutarik mukena coklatku, dan akhirnya aku tenggelam dalam qiyyamul lail-ku. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Biasanya aku melakukannya jika dalam keadaan ‘kepepet’, seperti saat akan melaksanakan ujian nasional kemarin. Itupun hanya sebatas menghadap Yang Mahakuasa tanpa mengikutsertakan hati dan pikiranku. Yang penting sholat, ujar batinku saat itu. Hmm. Aku tersenyum sinis. Betapa piciknya aku kala itu. Mendatangi Allah hanya karena aku butuh. Setelah itu? Bisa dikatakan sholatku sendiri kembali seperti pada zaman jahilliyah. Tetapi sekarang aku ingin berubah. Aku tak ingin seperti aku yang dulu.
Setelah shalat, langsung kulepas mukenaku tanpa merapikannya kembali. Kebiasaan ini belum juga sirna. Malas rasanya bagiku untuk bersikap rapi. Biarkan. Toh, saat ini tidak akan ada satu orang pun yang masuk ke kamarku untuk mengecek keadaan. Perlahan tapi pasti, kunyalakan lampu kamarku dan laptop kesayanganku. Start, All Programs, Microsoft Office, dan, yah ini dia Microsoft Word. Entah apa yang akan kulakukan dengan software pengolah huruf ini. Setelah beberapa saat memandangi kertas putih yan terpampang di dalamnya, aku pun mulai asyik menulis. Sudah lama aku tak melakukannya, senyumku.
Jemari tanganku mulai bermain lincah di keyboard laptop. Kulukiskan sosok gadis remaja yang lincah dan manis. Ia tidak pernah lelah untuk menjalani hidup yang keras dan kejam ini. Bukan karena ia merasa kuat. Sejujurnya ia letih, tapi keadaanlah yang membuat ia harus tetap kuat. Ayahnya sudah pergi. Bukan. Bukan pergi itu yang kumaksud, tapi pergi dengan wanita-wanita cantik penjaja kemolekan tubuh di pusat kota sana. Ia tak habis pikir atas apa yang dilakukan ayahnya. Jika beliau menginginkan wanita bertubuh molek, istrinya jauh lebih baik daripada wanita penjaja itu. Lalu apa? Seks? Ah. Entahlah. Aku belum cukup umur untuk membicarakannya. Untuk menguraikan arti kata tersebut saja aku masih perlu bantuan.
Bagaimana dengan ibunya? Ah, ya. Aku lupa mendeskripsikannya. Sosok yang dikagumi banyak orang, dengan bentuk tubuh dan riasan muka yang hampir sempurna. Gadis itu selalu mengagumi ibunya. Rasa-rasanya gadis itu ingin memiliki tubuh seperti tubuh ibunya. Perfecto. Karir ibunya bisa dibilang cukup cemerlang dibandingkan ayahnya. Beliau memang cerdas. Ibunya memang sudah lama bermimpi ingin menjadi wiraswasta. Dan itu memang dilakukannya sekarang. Memiliki butik ternama yang karyanya telah diakui oleh dunia. Tetapi karena itulah beliau jadi jarang di rumah. Ada saja pekerjaan di luar sana untuknya. Meeting memenangkan tender untuk fashion show kelas atas, membuat desain baju yang sudah dipesan oleh para pejabat tinggi negara dan dunia, dan entah apalagi. Mungkin hal itu pula yang menyebakan suami yang dulu dicintainya berjalan semakin menjauh. Sekali lagi gadis itu hanya menyerah pasrah. Ia tak tahu macam-macam masalah rumah tangga dan seandainya ia bertanya kepada ayahnya pun beliau takkan mau menjawabnya karena menganggap ia masih terlalu manis untuk mengetahui hal-hal seperti itu.
Tuts keyboard-ku berhenti menghasilkan tulisan. Jemariku kaku. Sepertinya aku sendiri tahu kisah ini. Tidak sama persis, tapi hampir mirip. Hampir delapan puluh persen kisahnya sama menurutku. Biarkan. Takkan ada orang yang tahu keluarga mana yang menjadi inspirasiku menulis hal ini. Mungkin hanya aku, Tuhan, dan malaikat-malaikat di sekitarku yang tahu siapa mereka. Kalaupun akhirnya mereka merasa tersindir, biar sajalah. Siapa tahu bisa jadi bahan koreksi untuknya. Akhirnya, jemariku pun melanjutkan aktivitasnya.
Gadis itu, ah lebih baik kuberi dia nama Jessica, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarganya sendiri. Dia tidak bisa berharap banyak dari keluarganya yang sudah hancur. Ayahnya sudah beberapa bulan menganggur dan sepertinya beliau tidak berniat untuk mencari kerja lagi. Untuk apalagi beliau bekerja. Fungsi bekerja kan untuk menghidupi keluarga. Tapi toh, istrinya sudah bisa mencari uang sendiri dan sangat cukup untuk membiayai keperluan rumah tangga. Sedangkan ibunya sendiri merasa tidak perlu menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan keluarga. Beliau merasa bahwa itu adalah tugas suaminya dan uang hasil jerih payahnya adalah uangnya pribadi yang tiada seorang pun yang bisa menjamahnya.
Beruntung Jessica mewarisi sotak cerdas ibunya. Pekerjaan pun dengan mudah disabetnya. Sepulang sekolah, ia selalu mampir ke sebuah toko buku dan bekerja di sana. Sebagai siswi SMA kelas 10 yang belum memiliki pengalaman kerja, ia belum bisa berharap banyak dari pekerjaannya itu. Tapi setidaknya itu sudah cukup untuk membuat dapur berasap serta mempertahakan sekolahnya dan juga adiknya.
Mungkin keluarga yang bisa dibilang tinggal berdua itu hanya bisa berharap dari Jessica semata. Sang adik, Gino, sepertinya benar-benar tak bisa diharapkan. Berhembus kabar beredar bahwa ia gemar berpesta obat-obatan terlarang bersama teman-temannya yang umurnya jauh di atasnya. Ya. Terlalu dini jika ia mengenal obat-obatan terlarang itu dari teman-teman sekolahnya yang notabenenya masih duduk di bangku SMP. Isu itu pun berubah jadi fakta. Selang beberapa hari, ada beberapa aparat berwajib yang datag ke rumahnya dan menjemput paksa Gion karena terbukti sedang berpesta di rumah salah seorang temannya. Ah. Entah apalagi yang terjadi di rumah itu. Porak poranda dan siapapun tidak akan bisa berharap banyak. Hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan.
Lagi-lagi tuts itu berhenti. Aku tak yakin bisa melanjutkan kisah ini atau tidak. Terlalu berat usiaku untuk mendalaminya. Toh, ini masalah rumah tangga orang lain. Dan hampir semuanya aku ambil dari kisah nyata. Aku pun sama seperti mereka. Sama-sama tidak bisa menarik kesimpulan cepat tentangnya. Takut-takut salah presepsi karena aku percaya bahwa tidak hanya kata, pikiran kita pun bisa menjadi doa. Jadi sebaiknya aku kembalikan saja kepada pembaca. Biarkan mereka menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kamis, 13 Juni 2013

Leave a Reply

Powered by Blogger.