Kedaulatan Rakyat



Kedaulatan dalam bahasa Inggris sovereign adalah suatu hal yang sangat diidam-idamkan oleh setiap orang bahkan negara. Negara atau orang yang memiliki kedaulatan dapat melakukan apapun karena memiliki legalitas atau keabsahan untuk bertindak. Kedaulatan berbeda dengan kekuasaan, kedaulatan cenderung kepada hak untuk berkuasa tetapi kekuasaan belum tentu hak untuk berkuasa. Ada beberapa teori tentang kedaulatan yaitu kedaulatan Tuhan, kedaulatan hukum, kedaulatan negara, kedaulatan raja dan kedaulatan rakyat.
Kedaulatan rakyat adalah persoalan pelik yang tidak sederhana baik dalam pemahaman maknanya maupun aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Kedaulatan rakyat di mata rakyat sendiri memiliki makna yang bermacam-macam sesuai dengan latar belakang paradigma pemikirannya masing-masing.
Teori kedaulatan rakyat berpandangan bahwa rakyatlah menjadi raja sebagai penentu kebijakan publik (public policy). Kedaulatan rakyat dilaksanakan oleh sistem demokrasi. Demokrasi sendiri berasal dari kata Demos yang berarti rakyat dan Cratein yang berarti pemerintahan. John Lock sebagai pencetus kedaulatan rakyat sangat mengidam-idamkan terwujudkan kedaulatan rakyat. Dia menggambarkan bahwa terbentuknya sebuah negara berdasarkan kontrak sosial yang terbagi atas dua bagian yaitu factum unionis (perjanjian antar rakyat) dan factum subjectionis (perjanjian antara rakyat dengan pemerintah). Hal inilah yang mendasari teori liberalism.
Tetapi ketika kita berbicara mengenai hak-hak rakyat dalam konteks kepemimpinan maka akan kita dapati makna yang lebih spesifik dari kedaulatan tersebut. Berbagai aliran pemikiran dalam masyarakat mungkin akan dapat bertemu dalam sebuah kesamaan gambaran teknis tentang kedaulatan rakyat. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan diminta pertanggungjawabannya atas keadaan orang-orang yang dipimpinnya.
Konstitusi RI yaitu UUD 1945 telah menyebutkan dalam Pembukaan UUD 1945: “… susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat…” selanjutnya pasal 1 ayat (2) berbunyi: “kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.
Pernyataan di atas dengan tegas Indonesia menganut kedaulatan rakyat. Salah satu pelaksanaan dari kedaulatan rakyat adalah pemilihan umum yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pemilu tahun 2004 terakhir kali merupakan pemilu yang baru dilasanakan berbeda dari pemilu sebelumnya. Pemilu 2004 memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memilih salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kejadian ini merupakan kejadian yang belum pernah terjadi dalam ketatanegaraan Republik Indonesia.
Dalam bahasa Arab orang-orang yang dipimpin itu disebut sebagai rakyat (ra'iyah). Perkataan Nabi itu juga mengandung makna bahwa status rakyat itu dapat terjadi pada seorang akan tetapi dalam waktu yang sama ia menjadi pemimpin atau sebaliknya.
Oleh karena itu saya berpendapat, dalam konteks negara, apa yang disebut kedaulatan rakyat adalah hak-hak rakyat dalam bidang sosial, politik, ekonomi, pertahanan, dan keamanan yang keberadaannya harus dirasakan oleh rakyat itu sendiri dalam keadaan yang waras, tenang, dan jujur. Apakah yang disebut sebagai hak-hak rakyat itu adalah sesuatu yang dipikirkan dan diperjuangkan oleh mereka yang kita sebut rakyat?
Tidakkah isu tentang hak-hak rakyat dan kedaulatan rakyat hanya merupakan kesibukan kita dan tidak menjadi titik perhatian mereka? Mengapa gerakan-gerakan yang mengatasnamakan rakyat dan akan berjuang membela kepentingan rakyat hanya menarik segelintir mereka yang disebut rakyat? Apakah rakyat sesungguhnya memahami tentang hak-hak dan kedaulatannya atas hak-hak itu?
Kedaulatan rakyat adalah sesuatu yang sangat abstrak dan ideal. Rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang memiliki sejumlah parameter kerakyatan yang di antaranya adalah, pertama, rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang berkesadaran akan kerakyatannya. Kedua, rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang memiliki kesadaran kolektif.
Bangunan kerakyatan komunitas manusia di suatu tempat bisa dikatakan runtuh jika kesadaran kolektif mereka hilang dan sikap individualistik merajalela. Rakyat adalah sebuah keluarga besar kemanusiaan yang antara satu bagian tidak bisa dilepaskan dari bagian lainnya. Kolektivitas kebersamaan di antara rakyat dapat dibangun di atas dasar suku, agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Ketiga, rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang memiliki solidaritas. Hal ini menyangkut sikap kepedulian seseorang terhadap orang lainnya untuk berbuat kebaikan, tolong menolong, dan saling melengkapi. Keempat, rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang egaliter. Di dalam komunitas rakyat tidak boleh ada sekat-sekat pelapisan yang bersifat merendahkan kemanusiaan satu dengan lainnya, apakah itu sekat sosial, politik, budaya, atau lainnya.
Dari parameter rakyat berdaulat itulah kita melihat sebab-sebab mengapa gerakan-gerakan yang mengatasnamakan rakyat dan berusaha untuk membela kepentingan rakyat akan tetapi kenyataannya tidak didukung oleh rakyat. Rakyat kita, rakyat Indonesia, belum memiliki kedaulatan karena rendahnya kesadaran mereka akan hak-hak yang mereka miliki. Semua ini harus menjadi catatan kita, para penggerak perubahan.
Janganlah kita berpikir untuk melakukan perubahan pada tingkat struktur politik atau kenegaraan sebelum kita melakukan perubahan pada rakyat kita. Kitalah yang harus berusaha menghidupkan kedaulatan pada rakyat sehingga mereka mengenal hak-haknya dengan baik dan mempergunakannya dengan benar.
Dalam kaitan ini kita berhadapan dengan lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia yang memerlukan uluran tenaga dan pengorbanan kita karena kerja untuk mengubah budaya rakyat adalah kerja yang sangat raksasa. Terlalu naif apabila kita membayangkan akan memperoleh hasil raksasa dengan kerja yang sekadarnya dan seadanya.

Pemilu

Sebentar lagi kita akan mengahadapi sebuah momentum penting di negara kita, yakni pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat, presiden, dan wakil presiden Indonesia. Pemilihan umum sendiri seringkali mendapat kritikan keras karena biasanya diartikan sebagai sebuah proses penyederhanaan politik atas hak-hak rakyat. Elitisasi hak-hak ini di panggung sejarah peradaban manusia tak jarang pula melahirkan tindakan penyelewengan yang dasyhat.
Tentu kita masih ingat bagaimana Hitler telah mempergunakan lembaga demokrasi sebagai titik tolak bagi politik otoritarianismenya. Pemilihan umum bukanlah satu-satunya upaya bagi penggalangan hak-hak rakyat karena ia hanyalah sebuah prosedur yang aturannya boleh jadi cacat dan rakyat yang mengikutinya tidak mampu mempergunakan prosedur itu secara benar.
Tetapi sebagai sebuah realitas pilihan dari cara kerja sistematik untuk melakukan pemberdayaan kepada kedaulatan rakyat, kita memandang pemilihan umum ini sebagai ajang untuk mengukur kerja-kerja kita selama ini. Kerja perubahan bukanlah semata kerja pidato dan upacara-upacara. Rakyat tidak cukup dididik hanya melalui teori-teori, slogan-slogan, atau ajakan-ajakan yang bersemangat.
Dalam kaitan ini keteladanan dari para pioner perubahan meskipun dalam skala yang sangat kecil akan dapat menjadi pemicu bagi mereka untuk meyakini nilai-nilai yang kita usung dan tentu saja kepemimpinan yang kita janjikan.
Kita boleh saja berteriak tentang siapa saja pemimpin-pemimpin masa depan yang layak duduk di singgasana kepresidenan Indonesia untuk membawa bangsa ini ke puncak kehormatannya di mata dunia.
Tetapi semua seruan dan komitmen kita itu akan dilihat dan dinilai oleh rakyat terutama mereka yang baru bangkit kesadarannya. Arena pemilihan umum dapat menjadi sarana bagi pembelajaran politik kepada rakyat yang akan kita harapkan nantinya mau bergerak dalam proses perubahan yang menyeluruh. Kita memandang partai politik adalah salah satu model miniatur negara yang dapat dipergunakan oleh para penggerak perubahan untuk membuktikan ungkapan dan komitmen yang dijanjikannya kepada rakyat.
Tradisi kearifan, kejujuran, keberanian, dan perlawanan dapat dinilai melalui lembaga partai politik ini. Kita tidak menafikan bahwa tradisi ini tidak dapat diperlihatkan dalam lembaga-lembaga sosial dan politik lainnya, akan tetapi kedekatan partai politik kepada medan kekuasaan akan lebih banyak membuka watak asli kita yang sebenarnya terutama dikaitkan dengan cita-cita besar perubahan.
Kita harus berani memasuki medan ini tanpa harus meninggalkan medan lainnya yang juga menjadi pilar-pilar bagi peradaban bangsa. Kita juga harus berani menanggung risiko kekecewaan masyarakat akibat kemungkinan kinerja buruk yang diperlihatkan oleh sepak terjang politik kita. Kita harus sadari bahwa kebaikan dan kebusukan itu letaknya tidak hanya ada pada partai politik, tetapi juga pada lembaga-lembaga lain apakah itu lembaga swadaya masyarakat, lembaga kependidikan, bahkan juga lembaga keagamaan.
Surgalah tempatnya kebaikan sejati dan nerakalah tempatnya kebusukan sejati. Di luar kedua tempat itu kita senantiasa berharap perubahan-perubahan terus menerus terjadi. Kita berharap dan berupaya agar arah perubahan itu menuju kebaikan dan bukan sebaliknya. Banyak yang meramalkan bahwa rakyat akan memilih kembali ke impian masa silam karena kekecewaan mereka terhadap kenyataan hari ini.
Ini adalah sebuah gejala yang harus kita cermati karena pada kenyataannya rakyat cenderung untuk memilih mundur ke belakang dengan risiko-risiko yang mereka telah perhitungkan dari pada maju ke depan tetapi dengan tingkat spekulasi risiko yang tidak terduga. Tetapi ini juga merupakan gejala yang terjadi di beberapa negara yang tengah mengalami transisi demokrasi. Siapakah yang harus bertanggung jawab atas kecenderungan ini bila sungguh-sungguh terjadi?
Sedemikian hebatnya kritik tersebut sehingga tidak memberi ruang bagi harapan ke depan dari partai-partai politik tersebut atau bagi partai-partai politik yang memiliki sedikit potensi untuk memperbaiki diri. Bagi rakyat Indonesia pemilihan umum adalah "teror yang sangat tidak menyeramkan" sehingga pilihan untuk tidak memilih (golput) pada hari pencoblosan bukanlah tindakan yang populer.
Mereka harus memilih dan masa lalu adalah salah satu pilihan dalam benak mereka yang paling menjanjikan. Itulah kenyataan kita hari ini. Di tengah sempitnya kesempatan dan peluang kita dituntut untuk terus membangun optimisme. Sebab kita tidak punya pilihan, kita harus hidup bersama realitas masyarakat kita sendiri. Ini tantangan terbesar buat kita dan justru karena besarnya tantangan itu, diperlukan lahirnya orang-orang besar.
Orang-orang yang sanggup membaca dan memegang kendali perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Kita tidak punya waktu untuk mengeluh, tidak ada kesempatan untuk berputus asa. Kalau ada yang pesimis karena kita kecil dan sedikit, bukankah perubahan itu pada awalnya dimulai oleh sedikit orang. Akhirnya, saya berharap kita dapat menghadapi realitas yang terjadi pada bangsa kita dengan sabar.
Suatu kesabaran yang revolusioner karena perubahan itu tidak datang mendadak sontak dari langit. Perubahan harus kita perjuangkan. Saya juga yakin tidak ada di antara kita yang menganggap bahwa perubahan itu dapat dilakukan hanya dari satu sektor saja karena kita sesungguhnya tengah menghadapi sebuah krisis multidimensi. Partai politik dan pemilihan umum hanyalah sebuah agenda dari agenda-agenda besar perubahan yang harus dicanangkan di Indonesia hari ini.
Dalam keseluruhan sektor perubahan kita harus berhasil memenangkannya sebab kegagalan pada sebagiannya akan menyebabkan bangunan peradaban yang akan terbentuk menjadi janggal dan tak harmonis. Kemenangan rakyat harus merupakan kemenangan kepemimpinan nasional. Keduanya tak dapat dipisahkan. Marilah kita hadapi Pemilu 2004 dengan sikap wajar, sewajar mungkin yang sanggup dilakukan.
Kita tidak perlu jengkel secara berlebihan kepada kebobrokan rezim yang sekarang, sebaiknya kita menyusun kekuatan untuk mengakhiri kekuatan mereka. Perjalanan masih panjang dan tenaga-tenaga baru harus dipersiapkan. Karenanya kita harus selalu ingat, Tuhan, Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu bangsa sampai ada perubahan yang terjadi pada individu-individu dalam bangsa tersebut. Dan barangsiapa yang berjuang di jalan kebenaran maka Allah SWT akan membuka jalan-jalan kemudahan menuju kemenangan.

Leave a Reply

Powered by Blogger.