Stop! Jangan Lagi Berkata 'Jika Aku Mereka'


“Mbak Neti besok mau nerusin kuliah di mana?”
“Belum tahu, Mbak. Kepinginnya sih di Sastra Inggris tapi belum tahu juga. Kan masih SMP, jadi belum bisa memutuskan. Kalau kata Ibu yang bagus di Bakti Dharma, ya? Benar, nggak?”
“Oh, iya. Disitu memang bagus banget. Waah. Berarti Mbak Neti itu pinter ya sampai bercita-cita masuk ke sana.”
“Ah, nggak juga Mbak. Nilai di sekolah masih pas-pasan, kok. Masih harus banyak belajar. Teman-teman Neti banyak kok yang lebih pinter dari Neti. Malah ada beberapa yang sudah pernah ikut lomba pidato, storytelling, spelling bee. Pokoknya banyak, deh. Kalau Neti mah belum bisa apa-apa.”
“Ah, tapi kalau Mbak Neti pasti bisa. Kata ibunya Mbak Neti, Mbak Neti itu suka ikut les bahasa Inggris, ya?”
“Eh, iya. Tapi belum bisa banget, baru dikit. Belum berani kalau disuruh ngomong pakai bahasa Inggris.”
“Ya tapi kan sudah les, berarti sudah lebih pinter dari yang lainnya. Besok aku diajarin dong, Mbak. Mbak Tia sama sekali nggak bisa bahasa Inggris. Kalau diajarin itu nggak pernah ngerti. Nilai bahasa Inggris waktu sekolah aja jelek banget. Kalau Mbak Neti kemarin nilainya berapa?”
“Tujuh puluh sekian. Tapi itu juga belum tembus KKM. Masih kurang dikit.”
Lha itu sudah bagus banget. Tinggal belajar sedikit lagi paling sudah tembus KKM. Kalau Mbak Tia paling cuman lima atau enam. Itu juga sudah Alhamdulillah banget. Susah kalau lebih dari itu.”

Entah bagaimana ceritanya, percakapan itu kembali terngiang di kepalaku. Percakapan lima tahun silam, saat aku masih duduk di bangku SMP. Saat aku tengah liburan di salah satu daerah di Pulau Jawa. Dulu mungkin aku tak menyadari maksud dari percakapan itu. Selain umurku yang masih terlalu dini untuk diajak bicara mengenai perguruan tinggi, aku pun tidak terlalu dekat dengan saudara-saudaraku di sana. Alhasil aku tidak benar-benar mengetahui apa makna di balik semua perkataan saudaraku itu.
Tapi kini, ketika aku memtuskan untuk tinggal di kota yang sama dengan saudara-saudaraku, aku pun sadar, apa makna yang terkandung di setiap kata yang terucap itu. Ya, tentu saja. Apalagi kalau bukan itu. Iri. Tapi itu hanya perasaanku saja. Hanya pendapat subjektif seorang Lina Anestesia atau yang biasa mereka sapa sebagai Neti.
Tak cukup satu atau dua bukti hingga aku bisa mengatakan bahwa mereka iri. Tiga tahun aku hidup di kota kecil nan indah itu. Tiga tahun pulalah akhirnya aku mengerti dan tersadar seperti apa watak dan sifat mereka sebenarnya. Hidup di tengah keluarga yang menurutku tidak pernah memberikan pilihan dan keleluasaan untuk memilih. Petuah bahwa anak itu harus selalu mengikuti apa kata orang tua selalu mereka pegang dan kondisi itu diperparah dengan keegoisan orang tua mereka sendiri. Mengatur bahwa anak-anak itu tidak perlu sekolah jauh-jauh, toh ilmunya sama saja. Sekolah tidak perlu yang mahal-mahal, karena masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Yang penting bisa lulus dan syukur-syukur bisa cum laude. Dan sekarang, mereka tidak boleh mencari pekerjaan di luar kota. Entah apa alasan orang tua mereka. Padahal jika mereka mau menelaah lebih lanjut, mencari pekerjaan di kota kecil dan hanya dengan mengandalkan kualitas otak yang tidak begitu cemerlang mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa. Saingan para pelamar pekerjaan di luar sana sangatlah banyak dan jika ada yang lebih baik, perusahaan-perusaahan itu pasti akan cenderung untuk memilihnya.
Ah, entahlah. Itu memang urusan mereka masing-masing. Tapi sejujurnya aku kasihan kepada saudara-saudaraku. Mereka sebenarnya bisa mendapatkan lebih dari apa yang telah mereka dapatkan saat ini. Mungkin jika mereka diijinkan untuk kuliah di perguruan tinggi yang baik atau bahkan yang terfavorit. Jika mereka diberikan beragam pilihan sesuai bakat dan minat mereka terhadap suatu jurusan tertentu. Jika mereka diijinkan untuk mencari kehidupan yang lebih layak di kota-kota besar. Otak-otak mereka tak sesumbat orang yang tidak berpendidikan tapi sayang, apa yang diterima oleh mereka hampir sejajar dengan orang-orang yang tidak berpendidikan.
Dan perkataan itu kembali terulang. Di saat aku akan melangkahkan kakiku untuk mengejar apa yang selama ini menjadi cita-citaku. Ya, di saat aku melangkah dengan setumpuk berkas yang akan kugunakan untuk mengabdikan diri menjadi murid Sastra Inggris di Universitas Bakti Dharma.
“Lho? Mbak Neti sudah mau daftar kuliah? Bukannya baru kemarin naik ke kelas duabelas, ya? Memangnya sudah buka pendaftaran?”
“Sudah, Mbak. Ini ikut yang gelombang pertama. Baru nyoba-nyoba aja kok, siapa tahu langsung diterima. Minta do’anya aja ya, Mbak.”
“Wah, kalau Mbak Neti sih sudah pasti diterima, ya. Kan dari dulu sampai sekarang masih ikut les bahasa Inggris. Eh, masih suka les, kan?”
“Iya, Mbak masih. Tapi ya nilainya masih segitu-gitu aja. Belum ada peningkatan.”
“Ah, jeleknya Mbak Neti itu masih bagus, kok. Pasti diterima, deh.”
“Amiin. Do’ain aja yang terbaik, Mbak.”
“Terus besok mau kerja di mana Mbak? Tapi kayaknya kalau Mbak Neti mau kerja di manapun pasti diterima, ya? Mbak Neti kan pinter, bahasa Inggrisnya juga pinter. Pasti banyak yang nerima. Enak ya jadi Mbak Neti, mau ke manapun bisa.”
“Ah, belum tentu kok, Mbak. Kan belum pernah melamar pekerjaan juga, jadi belum tahu susahnya kaya bagaimana. Mungkin kalau dijalanin juga nggak gampang. Lagian Neti kan juga masih SMA jadi belum bisa ngerasain susahnya nyari kerja. Mungkin besok kalau sudah lulus juga bisa ngerasain sendiri susahnya.”
Lha tapi kan Mbak Neti itu pinter. Jadi pasti lebih gampang dapet kerjanya. Coba kalau kaya Mbak Tia. Dari kemarin belum dapet kerja yang pas. Kalau nggak gajinya yang kecil biasanya lingkungan kerjanya yang nggak nyaman. Makanya ini lagi mau nyari kerja lagi.”
Agak risi sebenarnya mendengar namaku selalu diagung-agungkan. Ditinggi-tinggikan. Masalahnya, mereka mengatakannya dengan nada yang iri dan itu membuatku benar-benar risi. Jujur aku tidaklah seagung yang mereka banggakan. Aku belum bisa apa-apa. Justru merekalah yang seharusnya berada di atasku. Mereka yang sudah mengecap manis pahitnya bangku kuliah dan berdiri di antrean para pencari kerja. Dibandingkan mereka, aku belum ada apa-apanya. Tapi ya itulah. Aku tahu mereka hanya minder karena tidak seberuntung aku dalam kemampuan berbahasa. Tapi yang membuat aku tidak suka adalah merkeka menutupi rasa minder itu dengan mencibir keunggulan orang lain. Bukan mengikuti bagaimana usaha orang yang mereka cibir itu sehingga mereka bisa sukses.
Jika mereka ingin tahu, perjuanganku untuk bisa mendaftar di universitas ini pun tak bisa dibilang mudah. Dari awal duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah belajar bahasa Inggris di rumah walaupun di sekolah aku belum mendapatkannya. Setelah itu mengikuti beragam les bahasa Inggris di lembaga kursus khusus anak. Lalu, ketika aku sudah dianggap mampu aku kembali ‘dititipkan’ di suatu lembaga bahasa ternama selama hampir dua tahun. Semuanya sudah menjadi kebiasaan bagiku. Mengikuti les bahasa Inggris adalah hal yang wajib di lingkungan keluargaku. Bahkan setelah SMA pun aku masih mengikuti beberapa kursus berbahasa Inggris. Jujur, terkadang aku merasa bosan. Hitunglah dan percayalah. Sudah beberapa kali aku mangkir dari jadwal les bahasa Inggrisku karena bosan. Ditambah dengan cara guruku mengajar yang tidak sesuai dengan seleraku. Bisa aku hanya les seminggu sekali dari dua hari yang disediakan atau menggunakan waktu libur yang disediakan sampai overlimit. Ya. Kau benar-benar menggunakan kesempatan itu ketika aku berada di puncak titik jenuh. Dari 8 kali jatah libur yang disediakan, aku menggunakan semuanya, bahkan aku menambah satu kali lagi. Saat itu, perjuangan orang tua dalam membiayai kursusku yang tidak bisa dibilang murah pun tak menghalangi niatku untuk meliburkan diri.
Dan jika mereka ingin tahu, pada awalnya aku pun tak yakin dengan keputusanku untuk memilih universitas Bakti Dharma sebagai tempat kuliahku kelak. Berbagai keraguan muncul, terutama setelah memutuskan untuk berhijab. Aku baru tersadar bahwa ini adalah yayasan katolik. Dan aku? Gadis berjilbab yang nekat untuk berada di lingkungan yang asing. Awalnya aku ragu. Cita-cita yang dari dulu kupendam akan sirna di depan mata. Walaupun belum sepenuhnnya sirna. Tapi aku menjadi tak begitu yakin. Aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Sebersit rasa menyesal menghampiri. Kenapa aku dulu begitu cepat untuk memutuskan berhijab? Ah, sudahlah. Aku merasa sudah berada di jalan yang benar. Jika universitas itu memang rezekiku takkan mungkin kemana. Percayalah. Kalaupun bukan rezekiku, aku yakin Allah pasti akan menggantinya di tempat yang lebih baik.
Rasa pasrahku sudah berada di titik maksimum ketika aku berkunjung ke rumah salah satu saudaraku. Begitu ditanya tentang kelanjutan studiku, aku dengan mantap menjawab Sastra Inggris Universitas Patih Majapahit. Dan aku pun terkesiap mendengar komentar mereka. “Kenapa nggak di Bakti Dharma, Net? Lebih bagus disitu kan?”
“Lho, memangnya boleh pakai kerudung, di sana?” tanya ibuku was-was.
“Boleh, kok. Itu kan udah jadi kampus umum. Dosennya aja ada yang pakai kerudung. Itu temannya Mbak Bintang ada yang di sana juga.”
“Oh, ya? Kirain ga boleh? Soalnya setahu Neti itu kan yayasan katolik, ya?”
“Iya. Tapi sekarang sudah terbuka untuk umum, kok. Kalau mau, coba saja Mbak Neti cari informasi lagi. Setahu Pakdhe sih gitu.”
“Oh, iya, Pakdhe. Nanti coba Neti cari informasinya.”
Mengetahui informasi itu rasanya semua keputus-asaanku selama ini mendadak sirna. Digantikan semangat berjuang seperti yang aku lakukan dulu ketika aku mulai bermimpi untuk mengenyam pendidikan di sana. Ah, rasanya hidup itu indah. Pakdhe ku yang notebenenya sudah naik haji dan memiliki pengetahuan Islam yang cukup kuat mengijinkanku untuk kuliah di sana. Senang? Tentu saja. Hanya tinggal selangkah lagi mimpi itu kuraih. Berbagai informasi pun mulai kucari. Bertanya kepada salah satu saudaraku yang kebetulan alumni Bakti Dharma, setiap malam mencoba untuk membuka websitenya, hanya sekedar mencari informasi kapan pendaftaran itu akan dibuka. Sampai akhirnya pendaftaran itu benar-benar dibuka. Di sana terletak sebuah foto di sampul pendaftaran di website kampus dan aku melihat sesosok wanita berjilbab di dalamnya. Foto itu memang simpel, tapi cukup untuk meyakinkan diriku bahwa pilihanku tidaklah salah.
Satu bulan sudah aku mengirimkan berkasku ke calon kampusku. Selama penantian itu, tak lupa aku memanjatkan do’a kepada Sang Maha Pengabul Do’a agar diberikan pilihan yang terbaik untukku. Hari ini, saatnya aku menerima hasil dari perjuanganku selama ini. Jika boleh jujur, aku sangat ingin diterima di sana, tapi jika belum diterima ya mau berbuat apalagi. Yang penting sudah berusaha semaksimal mungkin dan sudah memasrahkan hasilnya kepada Allah.
Rasanya ingin segera kulangkahkan kaki ini menuju rumah. Tak sabar untuk tidak membuka halaman web calon kampusku. Tapi sebelumnya, aku dikagetkan oleh getar telepon selularku. Sesegera mungkin aku membukanya. Dan, Alhamdulillah Ya Allah. Terimakasih karena Engkau telah mengabulkan do’aku selama ini. Ya. Seperti yang kalian duga. Aku lolos. Sungguh. Berkah yang luar biasa hebat dalam hidupku. Di saat yang lain belum menentukan tujuan hidupnya, aku justru sudah mendapatkan apa yang telah menjadi mimpiku selama ini. Ingin rasanya kupastikan kebenaran berita itu.
Yang kuinginkan saat ini hanyalah satu. Memeluk Ibu di rumah dan sujud syukur di atas sajadah yang tergeletak di samping ranjang tidurku. Ah, indahnya dunia. Sejenak aku berpikir. Jika saudara-saudaraku tahu mengenai hal ini, apakah mereka akan tertarik untuk terus berusaha menggapai mimpinya? Ataukah keirian mereka justru semakin menjadi-jadi? Entahlah. Nikmati dulu kebahagiaan semu ini. Syukuri dahulu apa yang telah aku capai saat ini.
Tak perlu waktu lama, berita inipun tersebar luas di kalangan saudara-saudaraku. Dan sayangnya, tidak ada yang berubah dari mereka. Mbak Tia dan saudara-saudaraku yang lain tetap saja menunjukkan sikap iri mereka dan mengucapkan kata-kata yang sudah taka sing lagi di telingaku. “Enak ya jadi Mbak Neti. Pinter. Baru naik ke kelas duabelas tapi sudah dapet kuliahan. Nanti nggak usah bingung nyari tempat kuliahan lagi. Nggak kaya kita dulu.”
Ah, andai saja mereka tahu perjuanganku selama ini hanya demi mendapatkan gelar sebagai mahasiswa di Universitas Bakti Dharma. Ya Allah, sampai kapan mereka akan berhenti menyatakan keirian mereka? Kenapa mereka tidak pernah melihat kepada usahaku selama ini? Dan yang lebih parah, setelah mereka mengatakan hal itu, kenapa mereka tidak belajar dari pengalaman mereka? Seharusnya mereka sadar, bahwa apa yang mereka peroleh saat ini merupakan hasil dari apa yang mereka kerjakan selama ini. Berarti, jika mereka memimpikan hidup yang layak, seharusnya mereka juga berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Bukan dengan mencibir prestasi orang.
Aku tidak pernah membenci sikap mereka. Itu jujur. Aku tidak pernah mengatakan hal yang palsu karena menurutku itu busuk. Aku hanya menyayangkan satu hal. Mereka selalu melihat bahwa rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput di halaman rumahnya. Tapi hanya sekedar itu. Mereka tidak pernah mau balajar dan berusaha untuk membuat rumput di halaman rumah mereka terlihat sama atau bahkan lebih hijau daripada rumput tetangga. Padahal jika mereka mau, mereka bisa melakukannya. Mungkin dengan cara menyiraminya dengan rutin, melakukan pergantian tanah, membuang rumput-rumput yang sudah kering, atau apapun. Menurutku masih banyak yang bisa mereka lakukan daripada sekedar mencibir ketentraman hidup orang lain.
Ya Allah, aku hanya ingin agar mereka sembuh dari penyakit iri mereka selama ini. Aku ingin mereka sadar bahwa apa yang selama ini aku peroleh pun karena aku memang memperjuangkannya semaksimal yang aku bisa. Bukan hanya dengan bermimpi. Aku juga selalu iri dengan kesuksesan yang diraih oleh orang lain, tapi aku belajar bagaimana caranya bisa sukses seperti orang itu. Aku ikuti caranya. Jika aku tak mampu aku rubah caranya sesuai dengan kemampuanku saat ini. Itulah. Itulah yang aku lakukan untuk meraih segala prestasiku selama ini. Bukan dengan berpangku tangan.
Jika mereka kembali melontarkan percakapan yang sama, ingin sekali aku mengatakan, bahwa jangan selalu bermimpi untuk menjadi seperti mereka. Jadilah dirimu sendiri dan raihlah apa yang selama ini menjadi obsesimu. Jangan melulu sirik dengan kesuksesan orang lain. Mungkin mereka memang keren. Menjadi pemenang di ajang lomba bergengsi tingkat nasional maupun internasional. Menjadi karyawan tetap di suatu bank ternama. Menjadi direktur dari perusahaan-perusahaan kelas dunia. Yakinlah. Mereka pun harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya.
Seharusnya mereka lebih melihat kepada yang berada di bawahnya. Mereka seharusnya bersyukur bahwa hidup mereka saat ini lebih baik dari orang lain. Seharusnya mereka bersyukur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang layak karena di luar sana masih banyak yang hidup miskin, mendapatkan pekerjaan yang tidak layak, dan hanya bisa bergantung kepada nasib. Harusna mereka sadar akan hal itu. Bukannya membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain yang berada di atasnya.
Sekali lagi, aku ingin mengatakan kepada saudara-saudaraku di sana bahwa hidup itu sebenarnya indah jika kita tidak membuatnya susah. Syukurilah apa yang telah kita peroleh selama ini. Jangan pernah berpikiran jika-aku-itu-adalah-mereka kepada yang berada di atasmu karena belum tentu kita sanggup untuk mencapai semua yang telah mereka capai. Tapi gantilah objek itu. Berpikirlah jika-aku-itu-adalah-mereka yang berada di bawahku. Kita juga belum tentu sanggup untuk merasakan kepahitan hidup yang mereka alami. Nikmatilah hidup ini dengan selalu bersyukur kepada Dzat Yang Memberi Rezeki Hidup. Berusaha sekuat tenaga dan pasrah sekuat hati akan hidup justru akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dan keberhasilan seperti apa yang kita impikan. Jangan lagi memandang bahwa rumput tetangga itu lebih hijau karena sebenarnya rumput kita pun tak kalah hijau asal kita mau merawatnya dengan baik dan benar.
Walaupun kita memiliki berbagai keterbatasan, apapun itu, tapi yakinlah bahwa itu bukanlah suatu tembok penghalang dari cita-cita kita. Jadikanlah kekurangan-kekurangan itu sebagai nilai lebih di masyarakat luas.

2 thoughts on “Stop! Jangan Lagi Berkata 'Jika Aku Mereka'

  1. Semua jalan rezeki dan jalan sukses sudah dituliskan masing-masing oleh sang maha Kuasa, semua orang pnya suksesnya sendiri-sendiri, jadi jelas bahwa Tak Harus jadi Mereka agar bisa sukses, yang penting percaya diri dengan kemampuan, dan terus belajar, belajar, dan belajar..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.