Part II >> Inisiasi Sanata Dharma 2014--(Lupakan) Reputasiku!!!

Setelah setengah jam berdiri akhirnya kami beserta salah satu wartawan Wawasan duduk di taman yang dipenuhi oleh semut. Setelah heboh dengan kasus semut barulah bagian Humas Sadhar meminta panitia untuk membawakan kursi panjang untuk tempat duduk para awak media. Kenapa tidak dari tadi?
Beberapa menit sebelum Walikota Surabaya yang menjadi bintang tamu di acara Insadha ini datang, ada kejadian menggelikan di bangku pers. Ada keributan kecil antara staff keamanan dengan wartawan Sindo. Staff keamanan meminta agar seluruh awak media memakai kartu identitas yang telah disediakan oleh panitia. Wartawan Sindo pun bertanya, “Apa bedanya dipakai dan dibawa? Saya bawa, kok.” Yang membuat saya tergelitik adalah jawaban dari staff keamanan tersebut. Ia menjawab, “Biar sama, Bu, dengan yang lainnya.” Lha, menurut saya, kalau staff keamanan itu memang mewajibkan kami memakai kartu identitas yang disediakan, ya alasannya harus rasional. Mungkin alasannya bisa diganti menjadi “Biar kami bisa tahu jelas kalau Ibu dari pers, jadi saat peliputan tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan panitia karena dikira ada penyelundup yang meliput.”
Acara yang ditunggu pun mulai. Ibu Risma menaiki panggung dan memberikan sambutan dan cerita-ceritanya untuk menjadi seorang inspirator publik. Saya maju ke belakang tenda untuk mengambil beberapa gambar, sedangkan sahabat saya sibuk mencatat apa saja yang dituturkan oleh orang nomor satu di Surabaya tersebut. Di sini pun lagi-lagi kejadian menggelikan terjadi. Seorang kamerawan dari Tribun yang sedang asyik-asyiknya mengabadikan momen dicegat oleh seorang panitia, kali ini perempuan.
“Mas, dari Tribun, ya?” tanya panitia.
“Iya, kenapa ya, Mbak?”
“Sudah dapat call card dari panitia?”
“Belum, Mbak.”
“Lho, masnya, kok, nyelonong aja? Ngga laporan dulu sama saya?”
Batin saya menjawab, Lha, situ siapa? Udah ngenalin diri?
“Lha tadi saya masuk juga ngga ada yang ngelarang. Ya saya cuek saja.”
Akhirnya dengan malu-malu pun perempuan itu memperkenalkan diri kepada kamerawan Tribun.

Tak sampai satu menit kemudian, di depan saya ada kamerawan dari Indosiar yang sedang mengambil gambar tepat dari sebelah tripod milik staff dokumentasi. Tak perlu menunggu lama, salah satu panitia menghampirinya mengingatkan untuk tidak mengambil gambar terlalu dekat. Dengan alasan tidak bisa mengambil gambar dengan jelas pun ia sanggup membuat panitia tersebut melangkah mundur. Tidak berhenti sampai di situ, panitia tadi justru ngedumel di belakang saya. Saya hanya berpikir singkat bahwa mungkin sebenarnya para kamerawan hanya berusaha untuk mengabadikan momen dalam satu frame yang apik. Tak peduli jika itu harus mengganggu pengambilan gambar yang sedang dilakukan panitia.

One thoughts on “Part II >> Inisiasi Sanata Dharma 2014--(Lupakan) Reputasiku!!!

Powered by Blogger.