Perjalanan Berharga Yogya-Magelang

http://ulasanasal.blogspot.com/2013/01/pulang.html
Kamis, tujuh Agustus duaribu empatbelas. Kira-kira pukul 9 pagi saya telah sampai di Terminal Bis Jombor, Yogyakarta. Saya memarkirkan Titanium di salah satu penitipan sepeda motor. Ya, saya akan kembali pulang ke Magelang setelah beberapa hari merantau di kota gudeg ini. Untung ada bis ekonomi yang akan melaju ke Semarang. Jika tidak, saya terpaksa pulang dengan bis AC yang perlu menambah beberapa perak lagi. Memang tidak terlalu mahal untuk kondisi yang nyaman, tapi saya lebih memilih untuk pulang dengan bis ekonomi.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, saya pun memperhatikan beberapa orang yang hilir mudik keluar masuk bis. Ada mahasiswa, orang tua, pedagang asongan, pengamen, dan masih banyak lainnya. Inilah salah satu hal yang saya sukai. Mengamati gerak-gerik setiap orang. Dari petani miskin sampai pegawai kelas menengah akan saya jumpai di bis ini. Berbeda jika saya harus pulang menggunakan bis AC, di sini saya hanya akan bertemu dengan orang-orang golongan menengah ke atas. Harga tiket memang tidak terlampau mahal, tapi orang-orang dengan penghasilan pas-pasan seperti kami ini akan lebih memilih bis yang lebih bobrok dan lebih murah ini. Ah, yang penting bisa selamat sampai tempat tujuan, batinku.
Bis yang saya tumpangi pun akhirnya berangkat. Sial, saya meletakkan buku bacaan di dasar tas. Alhasil, saya pun tidak bisa membaca buku selama perjalanan pulang ke Magelang. Niat hati ingin bertapa dalam  mimpi, tapi apa daya lingkungan tidak mendukung saya. Seorang pengamen datang untuk menghibur para penumpang bis. Saya tergelitik dengan apa yang ia nyanyikan. Di dalam nyanyiannya ia menyampaikan bahwa ia mengamen karena ia butuh uang untuk menyambung hidup. Ia tidak tamat sekolah dan membuat ia tidak punya keahlian lain selain bernyanyi. Yang penting halal, agama dan pemerintah pun tidak ada yang melarang, ujarnya.
Pikiran saya lantas melanglang buana menuju realita yang sedang dialami oleh Indonesia tercinta ini.  Pegamen ini menjual suara merdu yang ia punya untuk menyambung hidup, karena hanya itulah keahlian yang ia punya. Bandingkanlah dengan para pejabat di Indonesia. Mereka mengenyam pendidikan hingga ke universitas, bahkan beberapa dari mereka ada yang mengenyam pendidikan di luar negeri. Seharusnya mereka memiliki beberapa keahlian yang layak dijual untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun, yang mereka jual justru kelihaian mereka dalam melakukan korupsi. Mereka haus akan uang dan jabatan. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa memenuhi nafsu mereka padahal agama dan pemerintah pun sudah dengan tegas mengharamkan cara-cara yang mereka lakukan. Jujur saya malu, seharusnya para pejabat itu mendengarkan lagu yang didendangkan oleh pengamen tadi. Berkacalah mereka bahwa orang yang benar-benar butuh uang justru tidak mau mencari uang dengan jalan yang tidak baik. Ah, Indonesiaku.
Selang beberapa menit kemudian ada seorang kakek-kakek datang. Beliau menembangkan sesuatu dalam bahasa Jawa yang hanya sedikit saya tangkap artinya. Lir-Ilir yang memang sudah memiliki aura tersendiri dibuat semakin mantap dan cukup meremangkan bulu kuduk saya. Pikiran saya kembali menemui realita yang ada di Indonesia. Banyak dari bangsa Indonesia yang akan teriak jika kebudayaannya diambil oleh negara tetangga, padahal mereka sendiri tidak mau mempelajari dan melindunginya. Mereka hanya berani berkoar tanpa tindakan. Namun, kakek ini tidak penah berkoar bahwa kita harus melindungi aset negara kita. Kakek ini tidak pernah berkoar, tapi melakukan aksi nyata. Di saat pengamen lain menyanyikan lagu-lagu pop masa kini, beliau tetap setia denga tembang Jawa yang mungkin akan menjadi ciri khasnya selama mengamen. Ah, kakek. Betapa mulianya niatmu untuk meleastarikan budaya Indonesia ini.
Di sekitar perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah saya bertemu lagi dengan segerombolan pengamen. Lagi-lagi pengamen bis ini membuat saya hanyut dengan pikiran saya sendiri. Sekarang bukan tentang Indonesia, tapi tentang mimpi-mimpi saya yang belum terwujud. Salah satu pengamen tersebut membuka ‘acara’ mereka seperti seorang penyiar radio sedang ‘open mic’. Saya terkejut mendengarnya. Mungkin lelaki ini pernah bermimpi untuk menjadi penyiar radio, tapi karena ada beberapa keterbatasan yang ia miliki—yang saya tidak tahu apa—ia tetap bertingkah seperti penyiar handal. Saya malu, sungguh malu. Mimpi saya untuk menjadi seorang penyiar radio saya kubur cukup dalam karena saya tidak lolos seleksi. Saya merasa bahwa mimpi itu tidak akan pernah lagi saya gapai. Namun, lelaki ini memberikan suatu pencerahan. Mungkin hanya orang-orang di sekitar saya yang tahu bahwa saya gagal menjadi penyiar radio, tapi hati kecil saya tidak dapat dibohongi. Saya tetap ingin menjadi penyiar radio dan seharusnya saya tidak mengubur mimpi itu. Terimakasih, Mas.
Sudah sekitar satu setengah jam saya duduk di kursi bis ini. Saatnya saya turun dan mencari kendaraan umum lain yang akan mengantarkan saya menuju rumah tercinta. Baru beberapa langkah keluar dari bis, saya bertemu dengan guru SMA saya. Ah, saya lupa siapa namanya, tapi saya ingat betul wajahnya pernah menghiasi kelas selama setahun pertama saya di SMA. Melihat beliau yang sepertinya juga mengingat saya, saya pun menebarkan seyum untuk menyapanya hormat.
“Hayo, Mbak. Masih ingat ngga?”
“Aduh, maaf, Bu. Kalau wajah saya ingat. Ini Bu Tri, bukan?” yang hadir di kepala saya hanyalah bahwa beliau salah satu guru PKn.
“Bu Tatik, Mbak. Kalau Bu Tri yang satunya lagi.”
“Ah, iya, Bu. Maaf saya lupa.” Senyum saya malu-malu.
“Mbaknya namanya siapa, ya? Saya juga lupa namanya?”
Ah, satu sama ternyata, batinku. “Laksmi, Bu.”
“Oh, iya iya. Wajahnya saya ingat, tapi namanya lupa.”
“Iya, Bu. Ngga apa-apa.”
Dari perbincangan sederhana inilah saya yakin bahwa seutas senyuman bisa meningkatkan nilai persaudaraan. Coba kalau tadi saya cuek dan pura-pura tidak mengenal beliau, silaturahim kecil ini mungkin tidak akan pernah terjadi.
Ah, Tuhan memang Maha Baik. Ia selalu memberikan pelajaran berharga kepada umatnya hanya dengan hal-hal kecil yang remeh dan saya sangat bersyukur bisa mendapatkannya dari perjalanan pulang saya yang simpel ini.

http://tintakebenaran.blogspot.com/2010/12/jalan-kebenaran.html



@aninditaninda

One thoughts on “Perjalanan Berharga Yogya-Magelang

Powered by Blogger.